Apresiasi Aliansi Badr, KH Zaitun: Langkah Strategis Indonesia Perkuat Kerja Sama Negara Muslim
JAKARTA ZAITUNRASMIN.COM — Ketua Umum Wahdah Islamiyah, KH Dr. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., M.A., menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia atas peran aktifnya dalam prakarsa kerja sama pertahanan empat negara yang dikenal dengan nama Aliansi Badr.
Apresiasi tersebut disampaikan KH Zaitun Rasmin dalam pertemuannya dengan Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Muhammad Anis Matta, pada Sabtu (24/10/2026).
KH Zaitun yang juga menjabat sebagai *Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Ukhuwah dan Ketua Umum Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara* menilai kerja sama tersebut merupakan perkembangan positif bagi penguatan kemandirian dan posisi strategis negara-negara Muslim di tengah dinamika geopolitik global.
*"Kami memberikan apresiasi yang tinggi kepada Pemerintah Indonesia atas peran aktifnya dalam terbentuknya kerja sama Badr. Ini merupakan langkah strategis yang menunjukkan bahwa negara-negara Muslim memiliki potensi besar untuk membangun kekuatan bersama, khususnya dalam bidang teknologi dan industri pertahanan,"* ujar KH Zaitun.
Aliansi Badr merupakan kerja sama empat negara, yakni Indonesia, Turki, Qatar, dan Pakistan, yang ditandai dengan penandatanganan *Badr Memorandum of Understanding* (MoU) di Doha, Qatar, pada Rabu (21/10/2026).
Kesepakatan tersebut mencakup kerja sama riset dan pengembangan, alih teknologi, produksi industri pertahanan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Indonesia dalam penandatanganan tersebut diwakili oleh Wakil Menteri Pertahanan RI, Marsekal TNI Yusuf Jauhari.
Menurut KH Zaitun, kolaborasi tersebut memiliki arti penting karena mempertemukan negara-negara dengan keunggulan dan potensi yang saling melengkapi.
*"Selama ini negara-negara Muslim memiliki sumber daya yang sangat besar, tetapi belum seluruhnya terhubung dalam kerja sama yang kuat dan terarah. Karena itu, inisiatif seperti Badr perlu kita dukung agar potensi tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi kemajuan dan kemandirian dunia Islam,"* ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjadikan kerja sama pertahanan sebagai instrumen untuk menjaga kedaulatan, menciptakan stabilitas, serta mencegah agresi dan konflik.
*"Kekuatan pertahanan yang kita harapkan adalah kekuatan yang mampu menjaga perdamaian, melindungi bangsa-bangsa dari ancaman, dan mencegah terjadinya kezaliman. Bukan untuk membangun permusuhan, tetapi untuk menghadirkan keamanan dan keadilan,"* tegasnya.
KH Zaitun berharap Indonesia terus memainkan peran strategis dalam memperluas kerja sama internasional, khususnya dengan negara-negara Muslim, tanpa meninggalkan prinsip politik luar negeri bebas aktif.
*"Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi penggerak kerja sama dan persatuan. Semoga langkah ini menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas demi kemaslahatan umat dan perdamaian dunia,"* pungkasnya.
