Ketika Pemimpin Harus Mengulur Benang, Bukan Menariknya


Ustadz Zaitun Rasmin mengajak untuk  merenungi sebuah metafora sederhana namun sarat makna: seutas benang. Dari benang itulah, ia menarik pelajaran kepemimpinan yang diwariskan sejarah Islam.

Ia menyinggung sosok Mu’awiyah bin Abi Sufyan, yang mampu mengonsolidasikan kaum muslimin di tengah turbulensi politik pasca wafatnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Menurutnya, kekuatan Mu’awiyah bukan semata pada kekuasaan, melainkan pada kecakapan mengelola hubungan dengan rakyatnya.

“Modal saya hanya seutas benang,” ujar Mu’awiyah sebagaimana dikutip Ustadz Zaitun. “Saya memegang satu ujung, dan rakyat memegang ujung yang lain. Ketika mereka menariknya, saya justru mengulurkan.” Dari sini, lahir sebuah prinsip penting: pemimpin bukanlah sosok yang kaku, melainkan mampu memberi ruang ketika tekanan datang, agar ikatan tidak putus.

Ustadz Zaitun menegaskan, seni menjaga agar benang itu tetap utuh adalah inti dari kepemimpinan. Pemimpin dituntut membuka telinga bagi aspirasi rakyatnya. Ketika suara rakyat benar, pemimpin harus berjiwa besar untuk menerima. Namun jika keliru, hukum tetap harus ditegakkan dengan adil dan tegas.

Dalam konteks kekinian, ia menyinggung persoalan upah buruh yang kerap memicu ketegangan antara pekerja dan pengusaha. Ustadz Zaitun mengingatkan pentingnya para investor menunaikan hak buruh secara layak. Meski demikian, ia juga mengajak semua pihak bersikap bijak, mengingat tidak semua perusahaan berada dalam kondisi stabil setelah diterpa pandemi berkepanjangan.

Ia mencontohkan sikap Rasulullah ﷺ yang tidak tergesa-gesa menetapkan harga, melainkan mempertimbangkan berbagai sisi sebelum mengambil kebijakan. “Pemimpin harus mau mendengar dari banyak arah, agar keputusan yang diambil benar-benar mencerminkan keadilan,” jelasnya.

Di akhir pesannya, Ustadz Zaitun mengingatkan dua pihak sekaligus. Rakyat diminta tidak mudah berburuk sangka kepada pemimpinnya. Sebaliknya, para pemimpin diingatkan agar tidak membuka ruang bagi lahirnya prasangka melalui kebijakan yang tidak sensitif dan minim komunikasi.

“Jangan biarkan benang itu rapuh,” tutupnya. Sebab ketika ikatan antara pemimpin dan rakyat terjaga, di situlah stabilitas dan keadilan menemukan jalannya.