Perjalanan Dakwah Ust Zaitun dari Timur Indonesia
SEJARAH JAKARTA - Beragam aktivitas digeluti Wakil Ketua Umum GNPF MUI (sekarang GNPF Ulama) ini. Sebelum GNPF MUI muncul, selain aktif di bidang dakwah Wakil Sekjen MUI, ia juga seorang dosen, pengusaha dan motivator.
Pada mulanya, Ustadz Zaitun Rasmin (UZR) tidak fokus di bidang dakwah, tapi keadaan yang membuatnya banting setir ke dunia dakwah. Ini bermula dari rasa prihatin dalam hatinya.
Sekitar tahun 1984, beberapa mahasiswa Islam Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, sepakat menggelar pengajian di kampus tersebut. Namun siapa dai yang akan diundang untuk mengisi pengajian menjadi kendala.
Bahkan, mencari dai yang akrab dengan komunitas kampus pun tak ditemukan.
Masalah itu mengendap di benak Zaitun muda yang kala itu menjadi mahasiswa semester 4 Fakultas Pertanian Unhas. Untuk itu, Zaitun muda bersama rekan-rekannya mulai gencar menimba ilmu agama Islam.
Di samping belajar, Zaitun muda menjalankan dakwah dengan mendirikan Yayasan Fathul Mu’in untuk memuluskan jalan dakwahnya. Namun masalah baru timbul, yaitu kekurangan tenaga pendidik yang menguasai bahasa Arab.
Pria kelahiran Gorontalo, 24 Desember 1966 itu pun memutuskan berhenti kuliah demi menimba ilmu agama dan bahasa Arab. “Biarlah saya fokus dakwah, sementara teman-teman melanjutkan kuliah,” ujarnya.
Zaitun kemudian menuntut ilmu di Lembaga Pendidikan Bahasa Arab Jakarta, sekarang LIPIA. Setelah satu setengah tahun, UZR dianugerahi beasiswa ke Madinah. Selama 4 tahun ia mendalami ilmu syariah di Universitas Islam Madinah.
Setamat kuliah dari Madinah tahun 1995, UZR kembali ke Makassar untuk melanjutkan dakwah.
Pada tanggal 19 Februari 1998, yayasan yang pernah ia dirikan berubah nama menjadi Wahdah Islamiyah. Dari Indonesia bagian Timur inilah harapan dan cita-cita ia bangun. “Kami memiliki harapan dan cita-cita besar. Ke depan, kami ingin melihat persatuan umat Islam di atas kebenaran,” kata Zaitun.
Adapun alasan lainnya, dibandingkan wilayah Barat, wilayah Timur masih sangat sedikit proses dakwah. Namun bukan berarti tidak ada kewajiban untuk mengembangkan dakwah ke wilayah Barat.
“Secara umum, kaum Muslimin di Indonesia saat ini kurang peduli dan memahami ajaran Islam,” katanya.
Baginya, untuk membangun citacita itu dibutuhkan banyak tenaga dai yang berilmu. Karena itu, UZR bersama kawan-kawannya pada tahun 1998 mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab (STIBA) yang diberi nama Ma’had ‘Aly Al-Wahdah di bawah naungan Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah (YPWI).
Selain sekolah tinggi, mereka juga mendirikan sejumlah TKA dan TPA, beberapa amal usaha, seperti BMT, toko buku, dan perkebunan.
“Ini murni dibuat oleh anak-anak dari Timur (Makassar) dan tempatnya hanya masjid. Pada perkembangannya, alhamdulillah kami mulai mendapatkan bantuan dari donatur,” ujanya.
Sejak tahun 2002, Wahdah Islamiyah yang dulunya adalah yayasan telah berubah menjadi organisasi masyarakat (ormas) Islam yang bersifat independen seratus persen.
“Tidak ada induknya di dalam atau luar negeri. Wahdah Islamiyah adalah ormas Islam berdasarkan al-Qur’an dan Hadis, mengikuti paham ahlussunnah wal jama’ah,” tandasnya. [Muhammad Khaerul Muttaqien]
Sumber : Gontornews.com
