Israel & AS Serang Iran, Iran Serang Negara Teluk, Bagaimana Sikap Kita?

 



JAKARTA  ZAITUNRASMIN.COM Ketua Umum Wahdah Islamiyah, Ustadz Zaitun Rasmin, mengecam keras serangan yang dilakukan Zionis Israel bersama Amerika Serikat terhadap Iran. Ia menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara dan tidak dapat dibenarkan secara kemanusiaan karena menimbulkan banyak korban sipil, termasuk anak-anak.

Menurut beliau, eskalasi konflik di Timur Tengah harus dilihat secara proporsional dengan tetap berpegang pada prinsip keadilan. Respons Iran yang diarahkan kepada Israel dipandang dalam kerangka pembelaan diri terhadap agresi, namun potensi meluasnya konflik perlu dihindari, terutama jika menyeret negara-negara teluk yang berpenduduk Muslim. Keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk, menurutnya, tidak lepas dari faktor kekhawatiran keamanan dan keterbatasan pertahanan masing-masing negara, sehingga persoalan tersebut harus dilihat secara komprehensif.

Terkait narasi yang menghubungkan eskalasi konflik dengan Board of Peace (BoP), Ustadz Zaitun mengingatkan pentingnya ketepatan analisis dan objektivitas dalam membaca situasi.

“Mengaitkan langsung konflik ini dengan Board of Peace tidak tepat secara kronologis, karena serangan terhadap Iran sudah terjadi sebelumnya. Sehingga kurang tepat jika serangan militer baru-baru ini dikaitkan dengan forum BoP,” ujarnya.

Adapun terkait seruan agar Indonesia keluar dari BoP, beliau menilai hal itu sebagai bagian dari dinamika aspirasi yang sah dalam demokrasi. Namun ia mengingatkan pentingnya mempertimbangkan aspek kemaslahatan dan peluang diplomasi.

Karena itu, peran pemerintah melalui jalur diplomasi perlu berjalan seiring dengan peran umat dalam aksi kemanusiaan, penggalangan bantuan, dan penguatan opini publik.

Di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi sikap, Ustadz Zaitun mengajak umat Islam untuk mengedepankan kejernihan berpikir, memahami konteks sejarah, serta menjaga komunikasi yang tenang dan argumentatif agar tidak terjadi perpecahan.

“Mari kita menggunakan hati nurani, pikiran yang jernih, dan bersikap objektif. Jangan melupakan sejarah agar kita tidak keliru dalam menilai dan ukhuwah tetap terjaga,” pesannya.

Dengan demikian, umat tidak sekadar bereaksi terhadap peristiwa, tetapi mampu menempatkan setiap sikap dalam timbangan keadilan.