Ust Zaitun : Bijak Menyikapi Perbedaan dalam Dakwah




Bijak Menyikapi Perbedaan dalam Dakwah

Oleh : Ust Zaitun Rasmin 

(Artikel ini dikutip dari video short : https://youtube.com/shorts/nHO75lsQL40?si=ZLE2rl_f9zlOGGj6)



Dalam aktivitas dakwah, tidak jarang seorang dai dihadapkan pada berbagai perbedaan pendapat dengan objek dakwahnya. Perbedaan ini, jika tidak disikapi dengan bijak, berpotensi menimbulkan benturan yang justru menghambat tujuan utama dakwah itu sendiri.

Seringkali, semangat menyampaikan kebenaran membuat seseorang mudah terjebak dalam perdebatan yang tidak produktif. Padahal, dalam realitas dakwah, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang benar, tetapi juga bagaimana kebenaran itu disampaikan dan diterima dengan baik oleh orang lain.

Dalam konteks ini, ada baiknya kita mengingat pepatah bijak dalam bahasa Indonesia: “Mengalah bukan berarti kalah.” Bahkan, dalam beberapa kondisi, meskipun kita berada di pihak yang benar, belum tentu kita akan berhasil jika cara penyampaiannya menimbulkan penolakan atau konflik.

Oleh karena itu, seorang dai dituntut untuk mampu memilah mana persoalan yang prinsipil dan mana yang bersifat sepele atau pribadi. Untuk hal-hal kecil yang tidak menyentuh prinsip dasar agama, sikap lapang dada dan menghindari perdebatan seringkali justru lebih mendatangkan maslahat.

Menghindari benturan bukan berarti mengorbankan kebenaran, tetapi merupakan bagian dari strategi dakwah yang bijaksana. Dengan menjaga hubungan baik dan mengedepankan hikmah, peluang diterimanya pesan dakwah akan jauh lebih besar.

Pada akhirnya, dakwah bukan sekadar memenangkan argumen, tetapi bagaimana membawa hati manusia lebih dekat kepada kebaikan dan kebenaran. Sikap bijak dalam menyikapi perbedaan menjadi kunci agar dakwah tetap berjalan dengan efektif, damai, dan penuh keberkahan.